Selamat tahun baru! 🥳

Semua berharap pasti tahun ini lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya. Tetapi, apakah kamu punya sebuah permohonan kecil namun berdampak besar bagi dirimu di tahun ini? Kalau begitu mari kita lanjutkan ke permohonan di bawah.

Semoga … (Silakan diisi sendiri ya)

Tahun lalu merupakan tahun yang memprihatinkan namun memiliki kesan unik bagi saya pribadi. Di tengah pandemi, sebagian orang mencuci tangan, memakai masker dan menjaga jarak agar tidak tertular dan menularkan orang lain.

Sebagian orang mulai peduli dengan kesehatan.

Kenapa saya hanya tulis sebagian orang?

Karena saya yakin sebagiannya juga pasti cuek dan tidak peduli dengan kondisi sekarang. Hiks!

Saat ini saya sedang mencari perspektif baru dan mudah-mudahan tahun ini saya segera mendapatkannya.

Tahun ini, pikiran dan aktivitas saya banyak berubah.

Saya lebih mengutamakan efektivitas dan efisien dibandingkan produktivitas yang selama ini diagung-agungkan banyak orang. Ini terjadi semenjak saya selesai membaca buku It Doesn’t Have To Be Crazy At Work. Lebih baik saya mengerahkan 20 persen tenaga (efisien) untuk mendapatkan 80 persen hasil yang saya inginkan (efektif) daripada membuat diri sibuk (produktif).

Dengan begitu, saya masih ada banyak waktu untuk bersantai dan bermalas-malasan.

Saya sudah jarang buka Twitter dan Telegram. Saya hanya menginstal Telegram di laptop kantor dan tidak menginstalnya di ponsel pintar. Alasannya sederhana, karena saya tidak ingin diganggu dan parno dengan notifikasi di saat hari libur dan akhir pekan.

Sekarang masih instal Telegram di laptop pribadi tetapi setelah tulisan ini dipublikasi saya akan meng-uninstalnya lagi.

Rekor menonaktfikan akun Instagram pribadi saya masih bertahan cukup lama. Sudah 1 tahun lebih saya tidak mengaktifkan akun Instagram. Saya senang karena tidak perlu memiliki rasa cemas apa postingan yang teman-teman atau kenalan saya. Lebih banyak waktu saya untuk bersantai dan bermalas-malasan. 😊

Menjelang akhir tahun saya teringat dengan masa lalu saya. Tiba-tiba melintas di kepala dan yang paling sering muncul adalah masa lalu yang memalukan dan menyedihkan. Ada keinginan untuk kembali ke masa lalu dan mengingatkan ke diri saya bahwa mestinya jangan begini dan begitu.

Saya hanya bisa bengong dan ada perasaan sedih saat melihatnya.

Masa lalu yang memalukan dan menyedihkan itu adalah hubungan pertemanan.

Untuk urusan pertemanan saya bukanlah orang yang hebat untuk membuat teman. Saya tidak tahu apa yang mesti saya lakukan agar hebat untuk membuat teman. Saya juga tidak yakin apakah orang-orang yang saya temui benar-benar menganggap saya sebagai seorang teman. Saya juga tidak yakin apakah perilaku saya mau membuat mereka menjadi teman mereka.

Ngomong-ngomong soal teman, mungkin bukan cuma saya yang berpikir tentang hal ini. Ketika di bangku sekolah atau kuliah teman adalah orang yang berada satu tingkat yang sama dengan kita. Tidak pernah ada berpikir bahwa orang yang berada di bawah tingkat dan di atas tingkat kita adalah teman. Mereka adalah adik kelas dan kakak kelas.

Setelah selesai dari bangku sekolah atau kuliah, batas usia dan tingkat dihilangkan. Siapapun bisa dijadikan teman.

Ketika selesai dari bangku sekolah atau kuliah, teman kita sudah berpencar ke mana-mana. Membentuk lingkaran baru dan kemudian bertemu lagi. Ketika saya bertemu dengan teman dari sekolah atau kuliah entah kenapa saya cenderung lebih memilih menghindar dibandingkan menyapa mereka.

Ada kemungkinan mereka lupa dengan saya atau saya memilih untuk tidak menyapa mereka karena saya memiliki kenangan memalukan dan menyedikan dihadapan mereka atau mungkin saya memang tidak ingin menyapa mereka.

Saya memiliki beberapa teman yang saya anggap baik dan saya anggap dekat dengan saya waktu di bangku sekolah atau kuliah. Tapi, saya tidak yakin apakah mereka masih mau menyapa saya dan mungkin mereka masih melihat saya sebagai sosok masa lalu dan bukan sosok masa sekarang.

Kalau dipikir-pikir waktu itu orang mau berteman dengan saya mungkin karena saya orang yang pintar dalam segi ilmu pengetahuan yang mereka belum jamah. Sepertinya itu faktor utama mereka mau berteman dengan saya. Saya tidak yakin mereka mau berteman dengan saya karena memiliki hobi atau ketertarikan yang sama.

Ya, seperti seseorang pernah bilang semakin tua kamu maka lingkaran pertemananmu akan semakin mengecil. Mereka yang kamu anggap baik dan kamu anggap dekat dengan kamu sudah berubah karena lingkaran pertemanan lainnya.

Sampai sekarang saya masih tidak yakin apakah saya adalah seorang teman yang baik dan dekat bagi mereka dan saya tidak hebat untuk urusan pertemanan.

Saya berharap tahun ini bisa menemukan perspektif baru yang lebih baik untuk urusan pertemanan. 🙏

Satu lagi, saya akhir-akhir ini kecanduan dengan permainan Genshin Impact. Sebuah game petualangan yang membuat saya benar-benar saya suka. Mungkin ini game petualangan yang saya cari selama ini. Karenanya saya meng-uninstal game Mobile Legends. 😂

Karena game Genshin Impact saya mengalami semacam “kerugian secara materi”. Jumlah nominalnya besar tetapi tidak separah kanal Zeelius dan salah satu video dari kanal game lainnya yang mungkin menghabiskan uang hingga puluhan dan ratusan juta. Mereka mah sultan! 🤷🏽‍♂️

Setelah menganalisa “kerugian secara materi” yang sudah terjadi, jika ingin bermain Genshin Impact sebagai “Free To Play” player dan mau mengeluarkan cuan sebaiknya cukup beli Battle Pass seharga 175k (sudah termasuk pajak) dan Blessing of the Welkin Moon seharga 90k (sudah termasuk pajak) setiap bulannya. Itu kalau ada sisa uang yang memang bisa dipakai buat hiburan.

Saya pikir wajar orang membeli hal-hal seperti itu karena ada sebuah kesenangan dan kepuasan tersendiri ketika mendapatkan sesuatu yang mereka idam-idamkan.

Know I understand you, gamers! Respect!

Tiba-tiba hati saya lega dan beban saya lepas setelah menulis cerita ini. Terima kasih. Sekali lagi terima kasih. 🙏