Pelajaran dari Buat Startup dari Nol

Saya mulai kenal istilah start-up waktu tahun 2015 saat saya masih kuliah. Pikiran saya waktu itu start-up itu keren dari katanya “start-up” dan saya melihat start-up tanah air di Indonesia mulai dari Gojek, Tokopedia, BukaLapak, Traveloka booming waktu itu dan pengguna yang menggunakan jasa mereka banyak sekali. Dua kata dari saya buat start-up waktu itu: “wow” dan “keren”.

Saya ingin punya atau terlibat membuat startup

Begitu kira-kira pinta saya saat itu. Tak disangka di tahun 2017 bulan Oktober saya diajak ikut oleh teman saya membantu membuat start-up nya yang mengambil topik pendidikan. Kemudian di tahun 2018 bulan Januari saya diajak ikut oleh teman saya berikutnya membantu membuat start-up yang mengambil topik sewa kos-kosan. Saya pikir saya siap untuk hal ini, tapi ternyata tidak. Faktor penghambat saya waktu itu adalah teknologi yang ingin saya gunakan di start-up belum saya pelajari. Di tahun 2018, teknologi yang ingin saya gunakan berhasil saya gunakan cuma masih ngadat.

Di tahun ini, saya masih belum bisa melanjutkan kerjaan ini namun saya bersyukur kedua teman saya tidak menekan saya untuk melanjutkan kerjaan walaupun mereka tetap memberitahu butuh fitur ini atau ketemuan. Akhir-akhir ini, saya mulai menyadari bahwa membuat start-up (kemungkinan besar) dan membantu membuatnya dari nol bukanlah hal yang saya senangi.

Berikut faktor-faktor penghambat di dalam diri saya:

  • Malas dan jenuh karena waktu 5 hari sudah tersita untuk bekerja, keluarga dan komunitas (untuk tahun ini jarang bantu komunitas).

  • Saya sudah bekerja dan waktu saya habis bekerja pastinya sudah capek karena perlu Anda ketahui bahwa kerjaan programmer menguras otak dan sering duduk. Belum lagi permintaan fitur atau perbaikan bug atau error atau permintaan membuat sistem di tempat kerja saya yang sudah menyita waktu dan tenaga. Sehingga akhir pekan biasanya saya habiskan untuk istirahat atau mencoba teknologi web yang belum saya ketahui atau membaca buku-buku yang belum saya baca.

  • Kerjaan di start-up ini tidak dibayar dan ada satu produk start-up yang belum jadi. Sungguh! Namun, beberapa kesempatan saya ditraktir oleh kedua teman saya makan-makan atau sekadar memberikan pulsa.

  • Saya tidak bekerja sendiri dan dibantu oleh beberapa rekan sesama programmer dan ada juga seorang desainer. Tetapi, perlu Anda ketahui bahwa kami mempunyai kesibukan masing-masing. Ada yang bekerja, ada yang kerja sambil kuliah dan ada yang kuliah dan ada yang bekerja di luar pulau. Ini saya kategorikan sebagai faktor eksternal.

Di tahun ini, salah satu dari kedua teman saya ada yang ingin berbuat nekat yakni di akhir tahun untuk berhenti bekerja dan meminta saya untuk berhenti bekerja untuk melanjutkan kerjaan di start-up namun teman saya akan membayar saya per bulan sesuai dengan gaji saya selama bekerja di kantor. Jujur, menurut saya ini gila! Saya saat ini masih bersyukur dengan penghasilan saya yang sekarang dan masih belum siap untuk berhenti bekerja untuk hal ini. Apalagi teman saya belum tahu bahwa penghasilan saya yang saya katakan kepadanya sebenarnya lebih dari itu. He he he.

Dari semangatnya saya bisa lihat bahwa dia serius dan tidak main-main. Ini yang saya salut!

Mumpung masih muda tidak ada salahnya untuk mencoba ini.

Kira-kira begitu yang dia katakan. Tetapi, saya belum siap dan bahkan tidak siap dengan ini. Ada kebutuhan yang harus saya penuhi dengan penghasilan saya yang sekarang mulai dari beli ini itu dan menabung tentunya.

Oh iya, btw kedua teman saya itu sudah bekerja ya.

Dari sini terbersit kalimat yang muncul di pikiran saya tentang start-up:

Start-up tidak semudah itu ferguso. Kerjaan ini harus konsisten dan banyak hal yang harus dikorbankan!

Start-up (menurut saya) kalau ngga konsisten dijalankan ya ujung-ujungnya akan gagal kan? Orang mencari dan menggunakan produk kita karena kita konsisten menjalankannya. Kalau kita berhenti, orang akan berhenti dan beralih ke produk lain dan mungkin bisa lebih bagus dari produk kita.

Daripada menyebut istilah start-up (yang dibuat dari nol), saya lebih suka menyebutnya project pro bono atau nothing to lose. Intinya membuat atau mengerjakan start-up bukanlah pilihan saya dan akan ada sebuah pilihan untuk saya harus berhenti dari hal ini.