Semenjak pandemi, rata-rata pengembang perangkat lunak di Indonesia diminta untuk bekerja dari rumah termasuk saya. Namun, tidak setiap hari kerja saya mesti kerja dari rumah karena ada hari piket yang meminta saya harus ada di kantor. Tetapi, hari piket ini bersifat fleksibel.

Saya pikir jika bekerja dari rumah justru keuntungan dan kerugiannya 50 banding 50. Keuntungannya meja kerja saya dekat dengan kasur jadi kalau saya capek ya sudah tidur dan tutup notifikasi dari kantor agar bisa mengumpulkan tenaga. 😉

Kerugiannya diganggu oleh keluarga untuk mengerjakan tugas rumah dan “gangguan-gangguan” rumah padahal saya ini benar-benar bekerja.

Hadeh… Enak ya anak-anak kos. #eh.

Namun, kerugian di sisi keluarga sudah ditutupi karena pelan-pelan saya memberikan penjelasan untuk diberi ruang dan waktu untuk bekerja di rumah.

Semenjak di rumah pula saya melihat meja yang saya gunakan untuk bekerja berantakan dan ruang saya untuk bekerja sempit. Alhasil, saya rapi-rapi sedikit agar terlihat benar-benar seperti meja untuk bekerja. Walau mungkin penampilannya tidak sekeren di media sosial. He he he.

meja kerja saya di rumah

Untuk musik bekerja saya ditemani oleh tiga musik dan bisa dipilih salah satu:

  1. Lofi Hip Hop
  2. Zelda
  3. Library Ambience Sounds

Saya lebih nyaman mendengar tiga musik di atas tanpa headset ataupun headphone. Jika kamu bekerja di tempat ruang kerja bersama atau kafe, saya menyarankan volume lagunya jangan keras-keras ya, maksimal volume 50 saja. He he he.

Untuk perkakas tambahan seperti penyangga laptop berdiri, penyangga HP, keyboard, mouse, mousepad dan lain-lain bisa berkunjung ke Perkakas Meja Kerja dari Rumah yang saya tulis di Notion.

Untuk penyangga laptop berdiri saya memilih Roost Laptop Stand dibandingkan Nextstand K2 setelah melihat ulasan di Youtube.

Untuk penyangga HP selain merk Nulaxy, kamu bisa menggunakan Livion sebagai alternatif yang lebih terjangkau dibandingkan Nulaxy.