Kilas Balik 2019

Tahun 2019 sudah mau selesai, kini waktunya saya mengecek kembali daftar yang saya pernah buat di tahun 2019.

  • Sepeda

Gagal membeli sepeda.

  • Nintendo Switch

Gagal membeli Nintendo Switch.

  • Laracon Indonesia

Januari 2019, komunitas Laravel Indonesia berencana mengadakan Laracon (Laravel Conference) di Indonesia. Komunitas ini aktif di Telegram Laravel Indonesia dan jumlah grupnya waktu itu 6000 anggota. Entah kenapa tiba-tiba tidak ada perkembangan dan akhirnya tidak jadi dijalankan.

  • JSConf Indonesia

Berubah nama menjadi JSDay karena berdasarkan info yang saya dapat JSConf itu mengandung lisensi. Kalau tetap mengadakan dengaan embel “JSConf” maka bisa jadi harus mengikuti standar mereka dan harga tiket bakal mahal. JSDay merupakan sebuah konferensi yang diinisiasi oleh komunitas JakartaJS yang ditujukan untuk pengembang JavaScript di tanah air Indonesia. Acara dilaksanakan tanggal 28 September 2019. Silakan akses website JSDay dan podcast Developer Muslim mewawancarai Riza Fahmi tentang pelaksanaan JSDay 2019.

Saya sempat membuat Call of Paper, semacam pengajuan untuk menjadi pembicara di acara tersebut hanya saja tidak diterima karena keterbatasan slot pembicara berdasarkan info dari panitia. Tapi, saya berpikir mungkin penyampaian topik yang saya sampaikan kurang kuat. Waktu itu saya mengajukan proposal membahas topik tentang Web Accessibility dan Replace JQuery with JavaScript. Saya simpan proposal tersebut di Github dengan judul CFP for JSDay19.

Rencananya, kalau saya gagal menjadi pembicara maka saya akan datang ke sana sebagai peserta. Tiketnya terjangkau dengan harga (kalau ngga salah) 150 ribu rupiah. Hanya saja, acara ini diadakan di Jakarta sehingga saya mengurungkan niat ke sana karena biaya pesawat, tempat saya menginap dan polusi udara di Jakarta waktu itu parah banget.

  • Webunconf 2019

Webunconf adalah bootcamp selama dua hari untuk menyelesaikan permasalahan dari beragam topik. Setiap topik ditentukan oleh peserta saat di bootcamp tersebut, kira-kira seperti itulah cara kerja unconference. Saya pernah bercerita tentang bootcamp ini di artikel saya berjudul Hal-hal yang saya dapatkan dari webunconf.

Bootcamp ini hanya ditujukan web developer yang aktif berkontribusi di komunitas, konten kreator yang aktif membahas teknologi web dan industri yang peduli pada ekosistem web. Jadi, acara ini sifatnya adalah undangan dan tidak dibuka untuk umum. Bootcamp ini diinisiasi sejak tahun 2018 oleh Yohan Totting, Web Developer Relation dari Chrome.

Tahun ini saya sudah berencana untuk hadir namun karena mendadak ada acara keluarga maka saya tidak jadi hadir ke acara tersebut. Acara di tahun 2019 diadakan di Malang dan saya serahkan jatah saya kepada teman saya, Teofilus Candra. Sekalian buat dia pulang. Wkwkwkwk, bercanda. Saya memilih Teo karena dia memang aktif berkontribusi di komunitas Facebook Developer Circle dan BaliJS. Jadi, ngga ada salahnya dong saya minta dia ikut.

Berbicara

  • Pembicara di acara BaliJS di tanggal 14 Januari 2019 membahas topik Let’s Try Web Accessibility.
  • Mentor di kegiatan Hacktiv8 di bulan Maret sampai April 2019 membahas tentang web beginner (HTML, CSS dan JavaScript) ditemani Wayan Jimmy, Budi Surya Darma dan Teofilus Candra. Dibantu oleh Budi Harta Guna, Saraswati Cahyati.
  • Kolaborasi komunitas BaliJS dan PHPBali di tanggal 24 Juni 2019 membahas topik Intro Training Mobile Web Modern.
  • Mentor Training Mobile Web Modern (Online) di tanggal 1 Juli 2019 bersama komunitas BaliJS dan PHPBali. Ditemani Wahyu Budi Saputra, Teofilus Candra dan Budi Surya Darma.
  • Pembicara di acara Tokopedia Tech a Break berkolaborasi dengan BaliJS dan GDGBali di tanggal 8 September 2019. Membahas topik tentang Implement Accessibility in Web Development.

PHPBali

Mendesain ulang website PHPBali. Alasan di desain ulang ada di catatan Analisa web PHPBali. Saya mendesain ulang website PHPBali dengan Laravel, Tailwind, dan beberapa paket dari Spatie seperti spatie/laravel-cors, laravel-mix-purgecss.

Oh iya, ingatkan saya untuk mengirimkan postcard ke Spatie sebagai tanda terima kasih telah menyediakan beberapa paket keren yang telah saya gunakan.

Di tahun ini saya juga menggagas konsep 1 meetup 1 topik. Mengapa? Agar saya dan peserta tidak larut malam pulangnya. Berkat ini, kami selesai paling lambat jam 9 malam. Saya pikir konsep ini bagus untuk diadakan kembali tahun depan.

Komunitas

Di tahun 2018 lalu saya merasa seperti maniak komunitas. Jadi, setiap kegiatan saya datang ke kegiatan dan cenderung abai dengan manfaat yang saya dapatkan. Hal inilah yang membuat saya sering sakit.

Di tahun ini saya tidak begitu banyak terlibat langsung dengan komunitas. Maksudnya, saya mengurangi porsi datang ke meetup maupun workshop komunitas. Saya datang ke komunitas kalau saya benar-benar perlu. Hasilnya, saya sangat jarang sakit. Tapi, bukan berarti saya menyalahkan komunitas. Komunitas itu bagus asalkan kamu ada tenaga dan waktu luang untuk datang serta mendapatkan manfaat yang diperoleh.

Kantor

Sudah 2 tahun 8 bulan saya bekerja di salah satu universitas di Bali sebagai web programmer. Banyak pandangan didapatkan dari tempat kerja dan pekerjaan saya. Mengeluh itu wajar karena kita capek dengan rutinitas yang sama dan tidak ada kenaikan perkembangan baru dari diri kita selama kita bekerja seperti saya ingin menggunakan teknologi Vue dan Tailwind. Namun, saya sejauh ini bangga bisa menyelesaikan fitur API dan mengimplementasikan webhook untuk deployment sedangkan rekan-rekan saya sebagian besar melakukan deployment menggunakan FTP. 😝

Pastinya ada yang baik dan buruk diperoleh di tempat kita bekerja. Apapun itu, saya berusaha mensyukuri apa yang diterima.

Saya berpikir sudah tiba saatnya untuk mengakhiri petualangan di tempat lama dan beralih ke tempat baru. Saya juga belum menentukan tempat baru yang saya tuju, hanya saja saya hanya ingin mengakhiri petualangan di tempat yang lama. Tempat baru bukan berarti tempat kerja baru. Bisa saja tempat baru itu profesi baru saya bekerja nanti dengan lingkungan yang saya ciptakan sendiri.

Lainnya

Tahun ini saya membeli Google Pixel 3 dan Lumix GX85K untuk menjepret momen di bulan September 2019. Biaya yang dikeluarkan pastinya besar sekali hanya saja saya ingin memiliki dua peralatan di atas. Itupun hasil tabungan yang saya dapatkan dari pekerjaan. Saya membeli ini karena waktu itu ingin mengabadikan konser Barasuara dan Project Pop di Soundrenaline Festival 2019. Ya sudah, saya beli aja.

Lebih baik menyesal membeli daripada menyesal tidak membeli sama sekali - Kang Atet.

Saya sudah terbiasa menjepret momen dengan Google Pixel 3 sedangkan Lumix belum. Sepertinya saya perlu lebih sering pakai Lumix.

Berikutnya, menjelang akhir November sampai bulan Desember ada Black Friday dan saya membeli dan berlangganan tutorial antara lain:

  • Laracasts (langganan selama satu tahun).
  • Refactoring UI (beli).
  • Testing JavaScript (beli paket pro testing kalau tidak salah).
  • Vue School (langganan selama satu tahun).

Lumayan diskonnya dan lumayan juga harganya. Total semuanya mencapai 4.2 juta rupiah. 🤯 Saya berharap investasi ini tidak sia-sia. Serta saya mendapat pelajaran baru untuk menyimpan cadangan uang mulai dari Januari sampai November agar Desember bisa gila-gilaan lagi belanjanya. Wkwkwkwk.

Terima kasih tahun 2019 dan Tuhan sudah memberkati serta melindungi saya sejauh ini. 🙏

Jika konten ini bermanfaat, silakan: