Hari ini saya baru saja selesai menonton film dokumenter dari Netflix berjudul The Social Dilemma.

Poster the social dilemma Netflix diambil dari Newyork Times

Di film dokumenter ini para mantan pengembang perangkat lunak dari beberapa raksasa teknologi terkemuka seperti Facebook, Google, Twitter, Instagram, Pinterest diwawancara mengenai opini mereka tentang kondisi masyarakat akibat mengkonsumsi media sosial.

Mereka bercerita bahwa awalnya media sosial diciptakan untuk itikad yang baik seperti mempertemukan anggota keluarga yang hilang dan mendonorkan organ bagi yang membutuhkan.

Namun, seiring waktu berjalan mereka tidak menyangka bahwa akan ada masalah dari hasil ciptaan yang mereka buat dan mereka mengalami kesulitan bagaimana cara menanggulangi ini.

Lantas apa masalahnya? Apa ada masalah dan apa itu?

Saat pertanyaan-pertanyaan ini ditanyakan ke mereka, mereka menghela nafas dan termenung karena sulit untuk memberikan satu jawaban ringkas.

Silakan tonton film ini untuk menemukan jawabannya karena saya yakin jawaban saya dan kamu akan berbeda namun mungkin akan mengarah ke hal yang mirip.

Saya tunggu cerita kamu di blog kamu!

Jika Mas Yohan membahas tentang pentingnya etika pengembang dan pemilik produk terhadap dampak media sosial maka saya akan membahas pentingnya etika saya dan kamu terhadap dampak media sosial berdasarkan perspektif saya.

Saya dan Kamu adalah Produk Media Sosial

Iya, saya dan kamu adalah produk media sosial bukan pengguna media sosial. Kenapa? Karena saya dan kamu telah terjerat dalam media sosial dan secara tidak sadar media sosial menyisipkan iklan entah produk, politik, propaganda, konspirasi di linimasa saya dan kamu.

Toh media sosial ngga dikenakan biaya kan pas mendaftar, posting, buat grup, like, comment, share dan lain-lain? Kecuali kalau kamu belanja produk di media sosial atau ngiklan di media sosial.

Mereka (media sosial) menghitung berapa detik kamu melihat iklan itu dan apakah kamu mengklik iklan itu. Jika salah satu kondisi itu terpenuhi maka mereka akan menampilkan iklan itu atau iklan yang serupa dengan iklan itu terus menerus.

Sama seperti kamu googling, kalau kamu googling tentang drama korea ABC maka beberapa menit kemudian di HP kamu di browser sejuta umat (Chrome) bakal nampilin berita tentang drama korea ABC.

Sejatinya media sosial tidak pintar mengetahui apa yang kita butuhkan, mereka cuma sembarang saja melempar iklan hingga kita kena perangkap dari iklan itu dan perlahan-lahan pola pikir dan emosi kita berubah berkat iklan itu tanpa kita sadari.

Contoh lainnya, beredar berita bahwa pandemi adalah hoaks, pandemi adalah rekayasa elit global dan pandemi ngga bikin saya atau kamu cepat mati beredar di media sosial. #tepokjidat. 🤦🏽‍♂️ 🤦🏽‍♀️

Lalu, kita sebagai produk media sosial bereaksi terhadap berita tersebut dalam bentuk like, retweet dan share.

Selanjutnya yang terjadi? Berita itu akan muncul lagi dan muncul lagi hingga menghiasi linimasa kamu. Perlahan-lahan berita ini akan terserap di otakmu tanpa kamu sadari dan kamu yakini berita itu sudah benar tanpa kamu validasi berita tersebut.

Selamat!!! Kamu sudah jadi produk media sosial.

Kamu Dipantau dari Media Sosial

Eh, si X mau nikah loh?

Lho, kok kamu tahu?

Iya, gue lihat di IG nya lho.

Eh, si Y ternyata bolos kerja! Aaaaa jingan itu orang!

Lho, kok lo tahu?

Iya, gue lihat postingan liburan dia di IG story.

Ya, Instagram adalah salah satu media yang cukup hebat untuk tahu kamu lagi ngapain. Buat kamu yang senang jadi tukang kepo atau detektif, Instagram adalah sarana yang cukup tokcer. Buat saya yang nyimak cerita di atas agak ngeri-ngeri sedap gitu. Kenapa? Karena si X dan Y tidak menjaga privasi mereka.

Privasi, privasi dan privasi! Ngga semua orang harus tahu apa yang sedang terjadi pada saya dan kamu atau apapun.

You should be Joy Of Missing Out and respect your own privation!

Lantas, bagaimana cara agar saya dan kamu bebas dari jeratan “lingkaran dajjal” media sosial atau bagaimana cara saya dan kamu bisa beretika di dunia media sosial?

Bebaskan Diri dari Media Sosial

Media sosial telah menyisipkan fitur kepada pengguna untuk membatasi siapa pihak-pihak yang berhak untuk melihat isi postingan yang pengguna buat. Namun, masih ada celahnya seperti screenshot postingan. Sehingga menurut saya ini masih kurang efektif.

Bikin kecerdasan buatan untuk menangkal hoaks pun juga menurut saya percuma. Lho kok gitu? Udah lo nonton aja film dokumenter dari Netflix berjudul The Social Dilemma.

Ada empat langkah secara bertahap untuk membebaskan diri dari media sosial yang bisa saya tawarkan:

  1. Menonaktifkan lonceng notifikasi.
  2. Mengurangi jumlah orang yang saya dan kamu ikuti.
  3. Logout dari akun media sosial dan cabut media sosial dari ponsel.
  4. Non aktifkan akun media sosial baik sementara maupun permanen.

Cara nomor empat sudah dilakukan oleh Marissa Anita, salah satu pembawa berita favorit saya. Simak cerita Marissa Anita di video Puasa Media Sosial.

Dari video Puasa Media sosial, saya telah menonaktifkan akun Instagram saya sejak tahun 2019 dan saya saat ini nyaman dengan apa yang telah saya lakukan.

Ada cara lain yakni membatasi diri membagikan sesuatu ke media sosial.

Apakah saya harus membagikan ini?

Apakah saya harus membagikan ini?

Apakah saya harus membagikan ini?

Apakah berita ini valid?

Saya tidak mau memenuhi linimasa saya dan saya tidak yakin berita ini benar. Oke, tidak usah saya bagikan!

Ada cara terakhir yakni tidak memberikan reaksi alias tidak perlu melakukan apapun. Saya jadi ingat kartun What’s new Scooby Doo di episode High Tech House of Horrors yang saya tonton di tahun 2009. Secara tersirat, saya bisa mensimulasikan bahwa media sosial ini adalah rumah teknologi tinggi dan saya sebagai penghuni adalah produk dari rumah teknologi tinggi ini.

Cuplikan ini akan menjelaskan maksud di atas.

House: Pay attention to me! pay attention to me!

Me: (Just sit down, close your eyes and do nothing)

Do nothing! Do nothing! Do nothing! Be like Patrick Star!

Dan mari bersama-sama menjaga privasi masing-masing.

Karena kehidupan pribadi bukan bukan konsumsi social media :) - Yohan Totting. ✌️