D3 Ke S1. Sebuah Pertimbangan

Tulisan ini saya tujukan untuk diri saya sendiri sebagai sebuah pengingat dan bahan pertimbangan yang akan terjadi jika ingin memiliki niat melanjutkan jenjang latar belakang pendidikan dari D3 Manajemen Informatika ke S1 Sistem Informasi. Jika bukan bidang informatika maka sebaiknya saya sarankan untuk lanjutkan kuliah saja. Itupun kalau memiliki uang, waktu dan tenaga yang cukup.

Saya menyelesaikan pendidikan D3 Manajemen Informatika pada tahun 2016. Pada tahun tersebut, niat saya untuk melanjutkan ke S1 tidak begitu tinggi dan saat itu yang saya pikirkan adalah mencari pekerjaan. Bulan Oktober 2016 saya training di bidang pariwisata sebagai guest relation di sebuah hotel daerah Nusa Dua dan mulai sebagai daily worker di Februari 2017 sampai bulan Maret 2017.

Tunggu sebentar, guest relation? Bidang pariwisata? Apa-apaan ini? Bukannya bidangmu harusnya sesuai dengan pekerjaan kamu? Hmm, saya pikir kamu sudah sering menemukan kasus ini di dunia nyata dan jika kamu tidak menemukannya sepertinya kamu harus sering bertemu dengan banyak orang kemudian investigasilah mereka satu per satu. Mulai dari latar pendidikan mereka dan pekerjaan mereka jadi apa.

Hidup tidak seindah Dilan dan Milea selama berpacaran dan akhirnya mereka putus. HA HA HA HA!

Saat masa awal training sampai dua minggu, yang ada dibenak saya adalah:

Saya tidak terima! Masa bidang saya tidak sesuai dengan kerjaan saya! Saya harus cepat” selesai dan pergi dari sini! Welcome to the jungle

Oh iya, dan kebetulan laptop saya rusak saat saya mulai training. Mungkin ini sebuah pertanda. Hmm. Namun, akhirnya saya keasyikan mulai training di sana. Ha ha ha ha!

Selama melakukan training dan sebagai daily worker, pada masa tersebut saya:

  • Terjun ke restoran dan menemani senior saya untuk berinteraksi dengan tamu-tamu mancanegara mulai Jerman, Spanyol, Jepang, Korea, India, Rusia, Inggris, Amerika, Indonesia, Cina, Australia dan lain-lain. Di sini juga saya belajar mengenal watak dan perilaku para tamu

  • Mengenal bahasa-bahasa asing dan mencoba mempraktikannya. Sejauh ini saya tahu bahasa Jepang, Spanyol dan Jerman. Itupun sebatas kulit-kulitnya saja.

  • Kalau menghadapi tamu Cina, Google Translate adalah penyelamat saya dan harus dibawa kapanpun. Jadi, kalau Anda berhadapan dengan tamu Cina, gunakan opsi terjemahan dari Inggris ke bahasa Cina. Mengapa? Karena pengalaman pribadi dan ada tamu Cina yang pintar berbahasa Inggris (tulisan) tetapi tidak pintar dalam berbicara. Oh iya, orang Cina juga tahu bahasa Indonesia lho. Intinya tetap sopan dan menghargai sesama.

  • Mengurus administrasi dengan komputer.

  • Menghubungi tamu via telepon. Biasanya disebut dengan courtesy call.

  • Melihat senior menghadapi tamu komplain dan bahkan sampai gebrak meja juga pernah.

  • Mengenal dan mengamati politik kantor dan politik di setiap divisi, melihat pegawai yang sirik dan bikin ghibah baik dalam satu divisi maupun beda divisi.

  • Mengenal dan belajar karakter tamu dari beragam negara termasuk negara saya sendiri, Indonesia. Pada akhirnya tamu adalah raja dan harus dihormati. Tetapi, saya ingin bilang bahwa tamu juga harus menghargai pelayan! Tips dari saya, jika kamu berada di restoran sebuah hotel dan jam tersebut adalah jam makan pagi, pastikan minimal ada satu tamu dari negara kita yang kita tanyakan tentang umpan balik layanan di hotel dan restoran.

Pada bulan Januari 2017 saya juga mencari pekerjaan sebagai web programmer di perusahaan kecil di Bali namun setelah interview akhirnya saya batalkan setelah diskusi dengan kedua orang tua saya.

Kemudian, pertengahan Februari 2017 saya mendapatkan info dari teman bapak saya bahwa ada lowongan web programmer di sebuah universitas di Bali dan akhirnya saya coba untuk melamar pekerjaan tersebut. Alhasil menunggu sampai tanggal 15 Februari (atau 15 Maret kalau tidak salah) akhirnya saya diterima di universitas tersebut dan bekerja di sana sampai sekarang.

Setelah dua tahun saya bekerja, niat saya untuk melanjutkan kuliah kembali berlanjut. Mengamati lulusan tempat saya kuliah rata-rata mereka mengambil kuliah di sekolah swasta di Bali. Akhirnya saya mengumpulkan informasi dan saya kumpulkan dalam tautan ini.

Niat saya waktu itu sudah besar dan apalagi atasan saya tidak melarang bawahannya untuk berkembang baik dari ilmu maupun latar belakang pendidikannya. Namun, saat itu pula saya ragu dan memikirkan apa yang akan terjadi bila saja lanjut ke S1.

  • Walaupun banyak yang bilang bahwa kuliah sambil kerja itu gampang asalkan pintar membagi waktu namun sepertinya ini tidak berlaku pada saya. Ada hal yang akan terjadi kalau seperti ini misalnya fokus menyerap ilmu saat kuliah berkurang karena sudah tersita dengan waktu bekerja belum lagi jika ada kerjaan yang penuh dengan deadline.

  • Capek tenaga, waktu dan biaya. Belum lagi saya mendengar cerita dari teman saya yang kuliah sambil kerja harus rebutan SKS dengan sesamanya agar tidak bentrok.

  • Waktu untuk berkomunitas harus dihilangkan.

Sebelum tulisan ini terjadi, saya juga sudah membuat apa-apa saja yang ingin saya coba pelajari di tahun 2019. Kalau saya misalnya jadi kuliah di tahun ini maka saya ragu yang saya coba pelajari juga bisa terlaksana.

Bersyukurnya kedua orang tua tidak menekan saya untuk melanjutkan kuliah dan biaya kuliah harus saya tanggung sendiri. Brace yourself!

Setelah diskusi dengan orang tua dan teman-teman di komunitas yang saya kenal, saya mendapat beragam pertimbangan seperti di bawah

Gelarmu boleh D3, tetapi kemampuanmu harus lebih dari D3 bahkan S1!

tidak semua perusahaan menggunakan syarat degree min S1

cmn stlah di pikir2.. ktika kira akan loncat sana loncat sini tanpa ijasah sarjana dengan umur yg udah 28 ke atas. akan sangat sulit mencari pekerjaan. Ini kalau kerja di perusahaan Indonesia ya. Semoga ada perubahan kebijakan.

Bukan gelar yang saya cari, kedudukan atau apa lah, tapi ilmu yang saya cari.

aku skg uda s1. kalaupun nanti aku memutuskan s2, itu karena aku mau uji pikiran kritisku, riset, untuk indonesia. atau untuk mematangkan lagi fundamental. sampai saat ini, aku ga melihat kuliah adalah sarana untuk mendapat pekerjaan atau berharap “siap pakai” setelah lulus. disisi lain, aku ikut berkontribusi ke angka statistik bahwa ada sekian org di indonesia uda bachelor degree. sekian.

“Gelar dan ijazah adalah bukti kamu pernah sekolah, tapi bukan bukti kamu pernah mikir.” -RG (Hmm, mungkin Rocky Gerung ya?)

Capek kak (kalau kuliah sambil kerja) wkwk. Yang ribet itu pas awal milih mata kuliah sih, kita harus rebutan sama mahasiswa yang lain soalnya. Biar dapat jadwal yang pas.

Kalau mau coba cari program S1 yang memungkinkan kamu untuk kuliah online. Hmm, ini ide bagus!

Akhirnya saya putuskan untuk membatalkan melanjutkan ke S1 di tahun ini setelah melihat pertimbangan di atas dan kesiapan diri sendiri. Namun niat saya untuk belajar dan melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi juga tidak surut. Saya yakin pasti ada waktunya dan semestinya perguruan tinggi baik negeri maupun swasta tidak membuat syarat batasan usia maksimal bagi mereka yang ingin melanjutkan ke jenjang pendidikannya.