Bagaimana Saya Menjadi Web Programmer di Udayana dan Apa Saja Yang Didapatkan?

Perjalanan saya menjadi web programmer di dunia kerja kini sudah mendekati dua tahun. Di tempat saya bekerja, saya membuat sistem internal untuk keperluan universitas. Jumlah programmer saat ini 13 orang saat saya menulis ini. Kemampuan saya baik dari hal teknis dan non teknis justru bertambah. Dua hal teknis misalnya meracik query di database agar data yang ditampilkan sesuai dengan yang dibutuhkan, merancang tabel yang benar-benar efisien (jumlah kolom yang terukur dan pemberikan nilai pada kolom tersebut sesuai).

Kasus merancang tabel misalnya, saya mempunyai tabel surat yang mempunyai kolom is_draft dan jika surat tersebut masih berstatus draft (konsep) maka nilainya adalah 1 dan jika tidak maka NULL. Namun, saya melakukan tindakan yang tidak efisien, yakni memberikan nilai 2 jika surat tidak berstatus sebagai draft.

Kemudian hal lainnya misalnya memasang flag delete: saya membuat tiga kolom sebagai penanda bahwa surat tersebut telah di hapus yakni is_deleted (null atau 1), deleted_at (timestamp), deleted_by (id user yang menghapus surat ini). Awal mula saat merancang tabel ini saya merasa tidak ada yang janggal. Namun, semenjak saya kenal konsep soft delete Laravel yang hanya berpegangan pada kolom deleted_at lantas seketika itu pula saya merasa ada yang salah pada perancangan tabel yang saya perlukan. Semestinya kolom is_deleted tidak perlu ada sehingga kita cukup berpegangan pada dua kolom yakni deleted_at dan deleted_by.

Segi non teknis misalnya, berkomunikasi dengan atasan tentang laju pengerjaan sistem dan mengedukasi kalangan user yang generasinya tidak secepat generasi milenial ketika berurusan dengan teknologi.

Tahun 2018 merupakan pembelajaran penting bagi saya tentang bagaimana cara memberikan hasil kerja yang cepat dan rapi selain fokus pada coding style guide. Di kantor saya saat ini hanya berfokus pada memberikan hasil kerja yang cepat namun mengabaikan coding style guide. Mungkin terlihat sepele bagi orang lain, namun bagi saya pribadi ini merupakan hal yang fatal ketika berurusan dengan resign, pewarisan project, dan jika ada orang masuk ke dalam tim. Kemudian, masalah bahasa ketika memberikan sebuah variable, class, method, kolom dan tabel merupakan hal yang penting bagi saya karena sebagian besar dari kami (termasuk saya karena pengaruh budaya kerja) memberikan nama dalam berbahasa Indonesia dan ketika kami menerjemahkannya ke bahasa Inggris terdengar aneh buat kami.

Selanjutnya masalah perkakas di tempat kerja saya, sejauh ini saya menggunakan daftar di bawah:

  1. VS. Code Editor
  2. Laragon
  3. Chrome, Firefox
  4. Gitkraken
  5. Filezilla
  6. Version Control milik kantor
  7. Telegram
  8. Notion

Itu milik saya, untuk rekan-rekan kerja saya bisa jadi berbeda.

Semenjak saya bekerja, saya menganalisa teknologi yang kami gunakan antara lain:

  1. Admin template dari AdminLTE.
  2. Datatable.

Bagaimana saya bisa menjadi web programmer di sana? Secara tidak sengaja saat saya bekerja harian di sebuah hotel sebagai guest relation, saya menerima loker dari teman ayah saya di tahun 2017. Seketika itu saya tertarik dan di saat yang sama saya juga sudah jenuh dengan aktivitas di hotel yang rasanya itu-itu saja. Saya memberanikan diri untuk melamar loker tersebut dan tesnya yakni menampilkan daftar data yang jumlahnya puluhan ribu (10 MB) dan membuat laporan dalam PDF serta memberikan analisa terhadap data yang diberikan. Saat itu bagi saya sulit karena batas minimal untuk mengimport data di MySQL di PHPMyAdmin maksimal 2 MB dan kami tidak diperkenankan untuk menggunakan internet untuk mencari jawaban. Lantas, gagal pula upaya saya untuk meng-hack setup MySQL. Dengan data seadanya sebanyak seratus baris dan keterbatasan waktu sebesar 2 jam alhasil saya menyelesaikannya dan masuk ke tahap interview di hari yang bersamaan. Hal-hal yang ditanyakan rata-rata pernah ngoding apa, punya akun Github, pernah pakai Git dan hal-hal lainnya.

Saya bersyukur diterima dan bisa sampai sejauh ini, dengan hal ini saya bisa mengurus hal-hal lain seperti komunitas, waktu pribadi dan mengeksplor teknologi-teknologi di web yang ingin saya pelajari.

Saya juga tidak ingin selamanya diam di suatu tempat ibarat burung dalam sangkar dengan usia saya yang masih muda dan walaupun diberikan penawaran yang lebih baik.

Terdengar bodoh dan konyol, namun rasanya saya perlu percaya dengan pernyataan bodoh barusan.

Saya berharap saya bisa memberikan hasil kerja yang lebih baik ditahun ini dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.